💧 ... Bayangkan seluruh air di samudera dunia berubah menjadi tinta, dan setiap pohon di muka bumi menjadi pena. Cukupkah untuk menuliskan seluruh ilmu Allah ﷻ?
Jawabannya, tidak! Bahkan, apabila ditambahkan tujuh lautan lagi setelahnya, tinta itu akan habis lebih dulu sebelum satu persen pun dari ilmu-Nya selesai dituliskan.
Inilah jawaban langsung dari Allah Azza wa Jalla kepada orang-orang yang pernah mengaku memiliki ilmu yang banyak.
*01 – AWAL MULA TURUNNYA AYAT*
Ayat ini turun berkaitan dengan sikap orang-orang Yahudi yang merasa telah diberi ilmu yang sangat luas karena memiliki kitab Taurat.
Diriwayatkan, sebagian mereka mendengar firman Allah ﷻ tentang hikmah, lalu berkata kepada Rasulullah ﷺ bahwa mereka pun telah dianugerahi ilmu yang banyak.
Ada pula riwayat yang mengaitkannya dengan pertanyaan kaum Quraisy kepada Nabi ﷺ tentang hakikat ruh, yang kemudian dijawab bahwa manusia hanya diberi pengetahuan yang sedikit.
Dari situlah Allah ﷻ menurunkan jawaban tegas dalam surat Al-Kahfi, 18:109.
قُل لَّوْ كَانَ ٱلْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَٰتِ رَبِّى لَنَفِدَ ٱلْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَٰتُ رَبِّى وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِۦ مَدَدًا
"Katakanlah, 'Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula) '."
*02 – LAUTAN TINTA PUN TAK AKAN CUKUP*
Menurut Ibnu Katsir, seandainya seluruh lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat, hikmah, dan tanda-tanda kekuasaan Allah ﷻ maka lautan itu akan habis lebih dulu sebelum penulisannya selesai.
Bahkan, apabila didatangkan lagi lautan tinta yang sama sebagai tambahan, dan lautan lain lagi setelahnya, kalimat-kalimat Allah ﷻ tetap tidak akan pernah habis.
Penegasan ini diperkuat dalam ayat lain, surat Luqman, 31:27.
وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَٰمٌ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana."
*03 – ILMU MANUSIA HANYA SETETES DI ANTARA LAUTAN*
Ar-Rabi' bin Anas menggambarkan perbandingan ini dengan sangat indah. Ia mengatakan, perumpamaan ilmu seluruh manusia dibanding ilmu Allah , ibarat setetes air dari seluruh lautan yang ada.
Bahkan, seandainya seluruh pepohonan dijadikan pena dan seluruh lautan dijadikan tinta, semua pena itu akan patah dan lautan itu akan kering, sementara kalimat Allah ﷻ tetap utuh, tidak berkurang sedikit pun.
*04 – PERUMPAMAAN YANG MENEMBUS AKAL*
Syeikh Abdurrahman As-Sa'di menjelaskan, perbandingan lautan dan pena ini sejatinya adalah cara untuk mendekatkan hakikat keagungan Allah ﷻ ke dalam alam pikiran manusia.
Sebab lautan dan pepohonan adalah makhluk, dan setiap makhluk pasti berakhir serta musnah. Sementara kalam Allah ﷻ termasuk sifat-Nya, dan sifat-Nya bukan makhluk, sehingga tidak memiliki batas maupun penghabisan.
Beliau memberi gambaran yang menggetarkan hati, seandainya seluruh ilmu makhluk sejak generasi pertama hingga terakhir dikumpulkan menjadi satu, maka …
Perbandingannya dengan ilmu Allah ﷻ lebih kecil daripada seekor burung pipit yang menyelam ke laut lalu mengambil setetes air dengan paruhnya, dibandingkan luasnya lautan itu sendiri.
*05 – HIKMAH: MENGAPA AL-KAHFI DISUNNAHKAN DIBACA PADA HARI JUMAT*
Ada satu benang merah yang menarik antara penutup surat ini dengan sunnah membaca Al-Kahfi pada hari Jumat. Rasulullah ﷺ bersabda:
"Siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jumat, ia akan diterangi dengan cahaya di antara dua Jumat." (HR Al-Hakim dan Al-Baihaqi)
Surat ini ditutup dengan penegasan tentang luasnya ilmu Allah ﷻ yang tidak tertandingi, sekaligus perintah agar beribadah dengan tulus tanpa mengharap dilihat manusia (QS Al-Kahfi, 18:110).
Maka, cahaya yang dijanjikan bagi pembacanya bukan sekadar cahaya di hari Kiamat, melainkan juga cahaya berupa hidayah dan kejernihan hati untuk menyadari kecilnya diri di hadapan keluasan ilmu-Nya.
📚 … Disarikan dari *Tafsir Al-Quran Al-Azhim* (Imam Ibnu Katsir), *Tafsir As-Sa'di* (Syaikh Abdurrahman As-Sa'di), *Asbab An-Nuzul* (Imam Jalaluddin As-Suyuthi), dan lainnya.
Inspirasi Terpopuler