💙 ... Mengapa hari ini disebut Jumat? Tentu saja, ini bukan sekadar nama, bukan sekadar tradisi, dan bukan hanya penanda waktu.
Jumat memiliki aura yang berbeda: ada panggilan khusus untuk berkumpul, ada kewajiban kolektif yang tidak ada di hari lain, dan ada nuansa spiritual yang mengikat umat dalam satu irama.
Di balik nama ini tersimpan sejarah panjang, diskursus ulama, dan hikmah besar tentang makna persatuan dalam Islam.
*01 – KETIKA JUMAT MASIH BERNAMA ARUBAH*
Sebelum Islam datang, masyarakat Arab jahiliyah telah mengenal hari ini dengan nama Arubah. Kata ini berasal dari akar makna "kumpulan" atau "pertemuan".
Fungsinya pun telah bersifat kolektif: hari berkumpul, bermusyawarah, dan mendengarkan nasihat pemimpin kabilah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan bahwa nama-nama hari di masa jahiliyah berbeda dengan hari-hari yang kita kenal sekarang: Awal, Ahwan, Jabbar, Dabbar, Mu'nis, Arubah, dan Syabbar.
Dari semua itu, hanya Arubah yang memiliki kesinambungan makna dengan Jumat.
Ini menunjukkan bahwa konsep "hari berkumpul" telah menjadi struktur sosial masyarakat Arab jauh sebelum Islam hadir, bukan sekadar kebiasaan ritual, tetapi bagian dari sistem peradaban mereka.
*02 – PERDEBATAN ULAMA TENTANG ASAL PENAMAAN*
Para ulama berbeda pendapat tentang kapan dan bagaimana Arubah berubah menjadi Jumat. Al-Hafizh Ibnu Hajar mencatat sedikitnya tujuh pendapat.
Adapun yang paling kuat berdasarkan hadits shahih dari Salman Al-Farisi. Yang mana, Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, "Apakah kamu tahu apa hari Jumat itu?"
Salman menjawab, "Yaitu hari yang pada saat itu Allah menghimpun bapak kalian (Adam)." (HR Ahmad, An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah).
Hadits ini menunjukkan bahwa penciptaan Nabi Adam as. terjadi pada hari Jumat.
Artinya, proses penciptaan Nabi Adam as. merupakan penghimpunan unsur tanah dari berbagai penjuru bumi. Hal ini menjadi simbol kesatuan asal usul manusia.
Pendapat lain menyebut penamaan ini berasal dari tradisi berkumpulnya kaum Anshar di Madinah sebelum hijrahnya Nabi ﷺ.
Ada pula yang mengaitkannya dengan kebiasaan tokoh Quraisy seperti Ka'ab bin Luay dan Qushay yang mengumpulkan kaumnya pada hari Arubah.
Mereka berkumpul untuk mendengarkan nasihat, melakukan penghormatan terhadap Makkah dan Baitullah-nya, sekaligus sebagai momen pekanan untuk menggelar musyawarah sosial.
Walaupun berbeda narasi sejarah, seluruh pendapat ini bertemu pada satu poros makna: Jumat adalah hari penghimpunan manusia.
*03 – MAKNA FILOSOFIS NAMA JUMAT*
Nama "Jum'at" bukan sekadar istilah linguistik, tetapi simbol peradaban. Ia merepresentasikan integrasi antara ibadah dan kehidupan sosial.
Pada hari ini, seluruh lapisan umat—kaya dan miskin, pejabat dan rakyat, tua dan muda—berdiri sejajar dalam satu shaf, dalam satu arah, dan dalam satu tujuan.
Dalam perspektif Islam, Jumat juga dipahami sebagai hari pembuka ritme pekanan. Ungkapan Rasulullah ﷺ tentang "Jumat ke Jumat" menunjukkan struktur waktu umat Islam dimulai dari hari ini.
Maka Jumat bukan hanya hari paling mulia, tetapi titik awal pembaruan iman, penyucian jiwa, dan rekonstruksi sosial umat setiap pekan.
*04 – JUMAT SEBAGAI IDENTITAS PERADABAN UMAT*
Jumat bukan sekadar nama hari. Ia adalah misi peradaban. Misi untuk menghimpun kekuatan, menyatukan perbedaan, dan membangun umat di atas fondasi kebersamaan, bukan individualisme.
Setiap panggilan "yā ayyuhalladżīna āmanū idżā nụdiya liṣh-ṣhalāti miy yaumil-jumu'ati …" sejatinya bukan hanya seruan shalat, tetapi seruan persatuan, integrasi sosial, dan kebangkitan kolektif umat.
Dari penciptaan Adam, tradisi Arab kuno, hingga syariat Islam, maknanya tetap satu: menghimpun manusia dalam satu nilai, satu arah, dan satu tujuan.
Jumat bukan sekadar hari. Ia adalah identitas, ruh, dan simbol persatuan umat Islam. Allāhu a'lam.
📚 … Disarikan dari buku *Memburu Pahala di Hari Jumat* karya *Dr. Hilmy Rasyidi*.
Inspirasi Terpopuler